Buku Tamu

Putri Pingkan Dan Meninggalnya Matindas


Sejarah tentang “Pingkan Dan Matindas” 


 Pingkan adalah seorang diantara Putri yang tercantik didaerah wilayah sekitar Gunung Kelabat (Wilayah Tonsea) demikian pulalah Mantindas adalah seorang jejaka yang cukup cantik berwibawa dan jujur serta rajin. Gotong-royong atau mapalus pada saat itu memang sudah ada didaerah Minahasa bahkan istilah adat kesenian (maengket sudah ada). 

 Kedua putri dan putra tercantik ini kebetulan pula berdekatan kebun, dimana mereka bergabung pada mapalus pemuda-pemudi. Pada suatu ketika mereka akan berkumpul disuatu tempat bernama “Makalisung” yang sedianya pertemuan itu berlaku sebelum tengah hari, tapi karena hujan terus menerus maka datanglah banjir besar dari hulu danau Tondano dimana kedua insan itu harus menyeberang. Oleh Matindas telah diusahakan daya untuk menyeberang sungai yang sedang banjir itu. Maka Matindas mencari daerah yang agak sempit dan membuat titian dari 2 ujung buluh air yang panjang sebagai alat untuk mereka menyeberang. Menyeberang pertama adalah putri Pingkan sedangkan matindas pada saat itu mengadakan persiapan untuk menyusul menyeberang sungai yang sedang banjir. Tetapi apakah hendak dikata sewaktu Pingkan sedang berada diatas buluh sebagai titian itu buluh tempat memiti patah dan putri Pingkan hanyut dibawah banjir yang sangat derasnya. Melihat keadaan itu maka Matindas tanpa memperhitungkan akibatnya terus melompat kedalam air dan mengejar pada putri Pingkan diatas banjir yang sedang mengganas itu, dan dengan Kuasa Tuhan para saat itu Pingkan dapat diselamatkan dimuka maut dan keduanya dengan segala selamat dapat berhasil tiba diseberang. 

 Dengan dasar itulah maka putri Pingkan Lumelenoan menyampaikan kata hati sebagai balas jasa pada Matindas, sbb : "Tanpa Matindas Pingkan akan mati dan mati lemas, dan kata-kata hati Pingkan itulah sebagai pasrah pembelaan dimuka maut oleh Matindas pada Pingkan. Aku bersedia untuk kelak menjadi buah hatimu". Matindas pada saat itu tidak dapat menjawab sepata-katapun hanya disambut dengan senyuman dan disertai air mata yang bersamaan dari kedua makhluk Tuhan pada saat itu. Dan sebagai suatu cendera mata maka putri Pingkan telah menghadiakan satu buah ukiran / patung dari kayu kemuning yang benar-benar mirip dengan muka dari Pingkan. Dengan kata-kata dari Pingkan "kemanalah Matindas bila ingat terhadapku pandangilah dan ciumlah patungku ini". Pingkan pada saat itu telah berpisah dengan Matindas karena Matindas mengembara di Minahasa Utara ke Selatan (Minahasa Tengah) untuk bersama-sama mempertahankan daerah pantai Utara yang diserang oleh Laskar Kerajaan Bolaang Mongondow. Maka dalam pertempuran yang sangat itu jatuhlah patung dari Putri Pingkan itu ketangan Laskar Kerajaan Mongondow. Oleh laskar yang kembali kedaerah Mongondow selain menang dalam pertempuran telah mempersembahkan sebuah patung yang sangat cantik kepada Raja dan oleh Panglima Perang Mongondow. Setelah Raja mengirimi Laskarnya untuk mencari dimana sebenarnya perempuan yang mirip dengan patung tersebut diseluruh kawasan daerah Minahasa maka akhirnya diketemukan yang sama dengan patung itu di wilayah desa Tiniawangko pada saat itu Pingkan sedang membawah pisang mas. Diadakanlah penyelidikan Putri itu asalnya dari mana maka ternyata dia adalah gadis Tonsea yang bernama Pingkan kekasih Matindas bertempat dibawah Gunung Klabat didaerah / desa bernama Makalisung. Beberapa Perahu laskar dari Mongondow yang dikirim untuk merebut daerah pertahanan wilayah Lembeh dan Bangka dan akhirnya dibawah pimpinan Panglima Mogogunoi menyerang kema dibawah pimpinan panglima Minahasa Matindas setelah beberapa kali bertempur Matindas gugur, tanpa kubur dan Mogogunoi lah yang menguasai wilayahnya itu dan putri Pingkan berada ditangan Mogogunoi. 

Referensi : Dikutip dari (Z.P. Mokoagow. Buku Himpunan Catatan Pra-Sejarah Totabuan. Sinindian. tanpa tahun, diperkirakan ± 1972-1973).

2 komentar:

  1. qta hrs membedakan mana fakta sejarah dan mana kisah fiktif. Pingkan matindas bermula dari novel bintang minahasa yg di tulis di era belanda (thn 1920-an) oleh taulu yg sebenarnya hasil saduran dari epos ramayana. Seperti kata pepatah KEBOHONGAN yg di ulang2 lama2 akan dianggap sebagai kebenaran. Bolmong pernah punya karya sastra dlm bentuk kisah lengkebong yg ditulis puluhan tgn lalu namun bolmong sadar bahwa lengkebong hasil saduran dari kisah ABUNAWAS dan bukan bagian dari fakta sejarah. bintang minahasa (pingkan matindas sbgmna aslinya=ramayana sarat dg makna rasis.

    BalasHapus

 
Copyright © 2012. Lipu' Kobayagan - All Rights Reserved.
Proudly powered by Blogger